Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seni Menemukan Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan - Beth Kempton

Daftar Isi [Buka]
Judul Buku: Wabi Sabi - Seni Menemukan Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan
Penulis: Beth Kempton

Seni Menemukan Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan - Beth Kempton

Wabi Sabi yang muncul pada buku ini diambil dari konsep estetika Jepang. Sempat terlibat diskusi mengenai wabi sabi dengan kawan kece yang sedang studi di Ritsumeikan University, Kyoto.

Dia mengatakan kanji “wabi” berarti ‘proud’ dan “sabi” artinya ‘lonely’. Kesimpulannya seni yang menekankan pada kesunyian. Sunyi dalam pemaknaan sebagai sesuatu yang sederhana, tidak glamor, dan tidak mengejar kesempurnaan.

Kempton mencoba mengaplikasikan konsep wabi sabi itu pada kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman dia pernah tinggal cukup lama di Jepang. Wabi Sabi membantunya menemukan keindahan pada tiap hal yang ditemui dan dirasakan. Bahkan, ketika dia berada dalam kesedihan, kegagalan, dan kekalutan. Ketika membaca ini saya seperti menemukan seorang teman, ‘a wise little friend’, yang bisa saya datangi kapan saja.

Buku ini mengajak kita menikmati daun-daun yang berguguran, sinar mentari pagi yang menyusup dari celah jendela, suara air dari keran, gemerisik angin, cicit burung, dan lain-lain. Buku ini juga menemani saat kita merasa salah langkah, salah memilih pekerjaan, gagal dapat peringkat tertinggi di kelas. Bahkan, tak hanya menemani, tapi membawa kita menemukan keindahan dalam keadaan tersulit sekalipun.

Keindahan dalam hal-hal sederhana dan keadaan sulit itu dapat kita rasakan jika kita mampu melepaskan energi agresif ketergesaan. Saya teringat buku Haemin Sunim yang bicara tentang dunia yang terburu-buru. Perkembangan teknologi informasi membuat kita berlari dan saling mengejar. Kita bahkan sampai bingung apakah tempo kita normal atau sudah mulai agresif tergesa.

Jika tergesa bagaimana mungkin kita menyadari ada keindahan dalam kerutan di wajah yang menunjukkan garis perjalanan dan tempaan dalam hidup? Jika terburu-buru bagaimana mungkin kita menyadari keindahan pada cat rumah yang mengelupas karena telah melindungi kita dari hujan dan terik?

Jika terus berlomba bagaimana mungkin kita menyadari bahwa fase hidup kita yang tertinggal memiliki warna yang begitu otentik. Dengan tidak tergesa, menghayati keindahan tiap hal, dengan wabi sabi, kita belajar bersikap lebih baik pada diri kita sendiri.