Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Going Offline ( menemukan jati diri di dunia penuh distraksi ) - Desi Anwar

Daftar Isi [Buka]
Judul : Going Offline ( menemukan jati diri di dunia penuh distraksi )
Penulis : Desi Anwar

Going Offline ( menemukan jati diri di dunia penuh distraksi ) - Desi Anwar

Buku ini adalah buku yang menyindir zaman modern seperti ini ketika semua terpaku dengan gadget nya masing – masing.

Bagian 1 : Mengapresiasi Hidup Dan Kehidupan

Di bagian ini kita diajak untuk lebih mengapresiasi kehidupan kita yang penuh dengan anugerah, dan juga keindahan di sekitar kita. Berapa banyak orang diantara kita yang mampu menikmati alam sekitarnya.

Mendengarkan burung mengoceh, mendengarkan suara kendaraan yang melaju di jalan saling menyalip yang tersalurkan oleh angin ke telinga kita. Yang dimaksud disini adalah benar – benar mendengarkan, tanpa menilai semua bunyi itu adalah sesuatu yang mengganggu, atau bahkan menjadi tak terdengar karena kita mengabaikan keberadaannya.

Mengapresiasi di zaman sekarang sudah sangat berbeda caranya dengan zaman dahulu, dulu di pameran seni misalnya, semua orang yang datang di pameran itu takjub, mengapresiasi dan membeli keseniannya.

Sementara di zaman ini, orang datang ke pameran seni hanya untuk berfoto selfi dan menampakkan diri agar orang takjub dengan dirinya. Salah siapa? Salah orang yang menggunakannya, zaman edannnnn !!!!

Jarang sekali kita terlibat pada pembicaraan yang benar – benar pembicaraan. Yaitu pembicaraan yang melibatkan dua, tiga, empat orang yang duduk berhadaoan muka, seraya menganggukkan kepala menandakan rasa setuju, menggelengkan kepala yang menunjukkan rasa simpati, dan membahas masalah yang penting, seperti kecemasan yang meresahkan, atau bahkan sekedar butuh hiburan atau saran.

Bagian 2 : Seni Kehidupan

Di masa yang penuh distraksi ini, kita seringkali kehilangan makna teman yang sejatinya, cara kita berhubungan satu dengan yang lain sudah mengalami pergeseran.

Di mana teman kita di dunia nyata yang telah kita kenal sejak kecil dulu terkadang dikalahkan oleh orang – orang yang baru kita kenal di sosial media, belum pernah bertemu di dunia nyata
.
Kita menjadi lebih bergantung pada pasukan teman – teman dunia maya yang persetujuannya kita nanti – nantikan. Seperti like, jempol, jantung hati, atau apapun itu bentuknya.

Apakah ini semua nyata? Atau hanya simpangan dari imajinasi yang kita ciptakan sendiri untuk memenuhi rasa dahaga?

Ya, like, komen, share, viewers, itu semua adalah hal yang adiktif, sama seperti narkoba, membuat orang candu. Apakah kita akan lebih memilih untuk menjalin hubungan atau relasi yang tidak nyata, merasakan romantisme tanpa perjuangan sebelumnya, dan merasakan petualangan tanpa melewati jalan berlobang nan becek?