Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Forgiving the Unforgiveable - Afthonul Afif

Daftar Isi [Buka]
Judul Buku: Forgiving the Unforgiveable
Penulis: Afthonul Afif

Forgiving the Unforgiveable - Afthonul Afif

Pemaafan merupakan jenis kebajikan dasar, sebuah pemberian dilandasi ketulusan serta kesungguhan hati. Hal ini melalui uluran kasih sayang yang sengaja ditunjukan kepada pihak yang justru paling pantas untuk dibenci dan dimusuhi.

Kita menjadi tahu bahwa menempuhnya ternyata bukan tindakan mudah, tapi juga bukan tindakan yang tidak mungkin. Seandainya kita tidak memiliki tasa marah, benci, atau dendam kepada seseorang yang telah melanggar kita, mungkin kita tidak akan pernah mengenal bagaimana cara memaafkan.

Memaafkan orang yang telah menyakiti kita bukanlah tindakan mudah, terlbih lagi jika yang bersangkutan tidak meminta maaf, Permintaan maaf dan oemberian maaf memiliki hubungan beberapa kemungkinan, dengan begitu ada 4 jenis hubungan yang lahir dari proses itu :

1. Permintaan maaf tanpa pemaafan
2. Pemaafan tanpa permintaan maaf
3. Permintaan maaf dan pemaafan
4. Tanpa permintaan maaf dan pemaafan

Kesultian penyembuhan luka antara satu orang dengan orang lainnya tidaklah sama. Semakin berat sebuah pelanggaran maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan lukanya. Sebuah pelanggaran bisa dianggap berat menurut Enright dkk, ketika ia telah membahayakan/mencederai semua dimesi kehidupan manusia, baik membahayakan dimensi emosional, mental, fisikal dan sosial.

Dalam perbaikan hubungan selalu dibutuhkan kesediaan dari kedua belah pihak, korban dan pelanggar untuk menyudahi permusuhan. Pemaafaan bisa terjadi bilamana kedua belah pihak telah sama-sama berhasil mengatasi kesulitannya masing-masing.

Dibutuhkan adanya kesamaan persepsi dari kedua belah pihak tentang perlunya membangun sebuah hubungan dengan semangat baru, paling tidak lama seperti, atau bahkan lebih baik dibanding dengan hubungan sebelum terjadi pelanggaran.

Pengakuan serta ungkapan rasa bersalah juga sepatutnya kita balas dengan pemberian maaf tulus untuknya. Dengan demikian, tidak ada kemungkinan yang lebuh baik bagi kita selain mengulurkan tangan mengajaknya menata ulang hubungan yang retak menjadi utuh kembali.

Model pemaafan yang ada :
1. Pemaafan palsu
2. Pemaafan diam-diam
3. Pemaafan total
4. Tiada pemaafan

Faktor yang memengaruhi atau berhubungan dengan kecenderungan orientasi dalam sebuah hubungan (korban-pelanggar).
1. Kecerdasan emosional
2. Nilai-nilai dalam hubungan
3. Komitmen terhadap hubungan
4. Kesediaan untuk berkorban bagi hubungan

Memaafkan memanglah sebuah proses. Dengan begini kita bisa mempelajari apa yang telah terjadi untuk memperbaikinya di masa yang akan datang.