Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tuhan Maha Asyik - Sudjiwo Tedjo

Daftar Isi [Buka]
Buku Hari ke 80

Judul Buku : TUHAN MAHA ASYIK

Penulis : Sudjiwo Tedjo

Buku ini berkisah kehidupan anak-anak, disertai penjelasan tentang bagaimana mereka memaknai Tuhan, menyadarkan saya akan beberapa hal. Bahwa Tuhan Mahasegala. Mengenal Tuhan bukanlah dengan cara menafsirkan setiap kata dalam kitabNya. Tuhan, ada pada setiap diri kita ketika kita jauh lebih mengenal diri sendiri. Dalam bahasanya, Sujiwo Tejo mengatakan, "Kita terlalu sering sowan ke Ulama, Pendeta, Pastur, Biksu. Tapi kita lupa, untuk sowan ke diri sendiri."

Secara tersirat saya menerima bahwa cara mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri. Bahwa konsepsi beriman kepada Tuhan adalah bagaimana kita memberi. Bahwa Tuhan, menginginkan kita mengoreksi diri sendiri, dan mengutamakan orang lain untuk setiap halnya lagi.

Tuhan Mahabaik. Bahkan ia tak peduli kepada siapa dan bagaimana mereka kepadanya. Rahmat Tuhan terbagi selalu. Tuhan telah ada sebelum segala. Maka, tak perlulah menafsirkan segala hal kataNya dan berbagi dengan makna yang kita terima. Tak perlu membawa Tuhan untuk membuat orang menuhankan kata kita.

Seperti biasanya, Sujiwo Tejo bercerita tidak jauh dari pewayangan atau hal-hal yang berkaitan dengan wayang. Seperti kehidupan, tiap bagian cerita berhubungan ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Ia mengenalkan Tuhan dengan cara asyik karena memang Tuhan Maha Asyik. Sehingga dalam belajar mengenal Tuhan, kita tidak terlalu dipusingkan dengan hal-hal diluar pemahamannya karena buku ini seperti orang yang saling berbincang di warung kopi membahas tentang Ketuhanan. Ringan dan menyenangkan.

Segala peristiwa yang terjadi selama ini merupakan wahyu Tuhan. Dalam hal ini Tuhan juga memberikan wahyu tersebut kepada orang yang memang tepat sebagai perantara menurut-Nya.
“Tuhan mewahyukan teori hukum gravitasi, misalnya kepada Isaac Newton, bukan kepada orang-orang yang hafal firman-firman-Nya. Karena Newton-lah yang paling potensial secara intelektual, memiliki kemampuan teknis untuk menjabarkannya.”.
Buku ini menggambarkan bahwa manusia sebenarnya hidup dalam ruangan yang gelap, ruangan ini sebenarnya tidak kosong tetapi belum ada cahaya yang menerangi ruang tersebut. Maka munculah wahyu yang berupa cahaya-cahaya itu seperti teori-teori yang membuka mata dan pikiran kita.

Selain itu, dari beragam maksud yang mengenalkan kita kepada Tuhan. Ia menutupnya dengan mengembalikan Tuhan pada diri sendiri, yang berarti bahwa Tuhan itu memang dekat. Siapa yang mengenal dirinya niscaya mengenal Tuhan-nya. Sepertinya ungkapan itu yang kurasa diulang-ulang di beberapa bab secara tidak langsung.
Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja. Baik bagi kamu yang ingin mengenal Tuhan atau yang sedang “mencari” Tuhan.Ssejatinya Tuhan tak perlu kamu cari, atau mungkin kamu sedang tidak kenal diri ?
Sekian resensi dari saya, semoga bermanfaat Semoga bermanfaat.